Selasa, 02 November 2010

Lahirnya Organisasi Muhammadiyah


Organisasi Muhammadiyah pada mulanya didirikan pada tanggal 18 Nopember 1912 M atau bertepatan dengan 13 Zulhijah 1330 H di Yogyakarta oleh KH Ahmad Dahlan. Dasar pendiriannnya adalah untuk mengembalikan ajaran Islam sesuai dengan Al Qur’an dan sunnah karena pada masa itu praktek agama Islam telah bercampur dengan tahyul bida’ah dan churafat atau yang dikenal dengan penyakit TBC.
Organisasi ini kemudian dibawa ke Minangkabau oleh Buya AR Sutan Mansur yang kemudian menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama dengan adik iparnya yaitu Buya Hamka atas restu dari Inyiak DR atau Syeikh Abdul Karim Amrullah. Bukittinggi pernah menjadi tuan rumah Kongres Muhammadiyah yang juga dihadiri oleh Nyai Ahmad Dahlan, isteri KH Ahmad Dahlan sendiri.
Di Tanjung Alam, pendirian Muhammadiyah juga menghadapi tantangan yang sangat berat mengingat pada masa itu umumnya masyarakat khawatir kehadiran organisasi Muhammadiyah akan memecah belah “ukhuwah islamiyah” dan persatuan masyarakat Tanjung Alam. Terlepas dari pro dan kontra, akhirnya Muhammadiyah berdiri tahun 1974 yang didirikan oleh Nazaruddin Sutan Muntiko Basa sebagai ketua pertama dan Nasrul Sutan Sati sebagai bendahara. Pada waktu pendiriannya di TK Perpeta Tanjung Alam juga dihadiri oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah IV Angkat Candung yaitu Ustadz H. Nazir Nurdin, Angku Khatib Masjid Nurul Huda Tanjung Alam, Angku Hadjam Hakim dan lain-lain. Salah seorang warga suku Pili Tanjung Alam yaitu Haji Mukhtar kemudian mewakafkan tanahnya yang terletak di depan Masjid Nurul Huda untuk digunakan bagi pendirian gedung Muhammadiyah.

Sepeninggal Nazaruddin Sutan Muntiko Basa pada tahun 1986, Pimpinan Muhammadiyah Ranting Tanjung Alam diketuai oleh Ripin Sutan Pono Ameh. Organisasi ini menjalankan kegiatannya seperti menyantuni fakir miskin dan anak-anak yatim, membuka madrasah, koperasi simpan pinjam, memberikan pengajian rutin mingguan dan didikan subuh anak-anak dan didikan Shalat Tarawih pada bulan suci Ramadhan.
Organisasi ini kemudian cukup berkembang sehingga seringkali didatangi oleh berbagai pimpinan Muhammadiyah baik dari Wilayah Sumatera Barat maupun dari daerah lain seperti Bangkinang. Sementara itu berbagai kegiatan yang dilaksanakan tersebut juga telah berhasil tidak hanya menjangkau masyarakat Tanjung Alam tetapi juga di jorong lain seperti Tanjung Medan, Batang Buo dan Pilubang serta mencetak generasi muda yang memiliki kesadaran beragama yang cukup tinggi. Salah satu keberhasilan yang dilakukan oleh gerakan Muhammadiyah adalah menanamkan kesadaran beragama terhadap generasi muda khususnya yang menempuh pendidikan sekuler. Sebelumnya kegiatan keagamaan hanya didominasi oleh tamatan sekolah agama seperti Thawalib Padang Panjang.
Disamping itu, pendidikan agama yang dikelola oleh Muhammadiyah memperkenalkan system yang lebih modern seperti menggunakan meja tulis yang dulunya hanya memakai system halakah dan kurikulum yang diajarkan tidak hanya pendidikan agama semata-mata namun juga memperkenalkan ilmu dunia lainnya seperti bahasa Inggris, tata boga, keorganisasian, managemen dan Kemuhammadiyahan. Dalam waktu tertentu juga dilaksanakan kursus dan pelatihan seperti: Leadership (kepemimpinan), Training Keorganisasian, Darmawisata dan lain-lain.
Sejak meninggalnya Nasrul Sutan Sati pada tahun 1989 dalam suatu kecelakaan lalu lintas di Lubuk Alung, jurang komunikasi yang semula sangat lebar dengan pihak Nagari Tanjung Alam mulai dibenahi oleh pengurusnya berikutnya dibawah pimpinan H. Muhardi Radjab, SH. Tidak beberapa lama kemudian, Madrasah Ibtidayah Muhammadiyah (MIM) yang dibina Muhammadiyah Ranting Tanjung Alam disepakati sebagai pengganti Tampat Pendidikan Al Quran (TPA) Perpeta sehingga pelaksanaan Khatam Al Quran murid MIM mulai diselenggarakan oleh pihak Nagari.
Sumber : http://baikoeni.multiply.com/journal/item/117

Tidak ada komentar:

Posting Komentar